Deskripsi
Praktik pelayanan medis termasuk aktivitas pelayanan
tertua yang telah ada sejak awal peradaban manusia. Sejarah
mencatat nama Imhotep (2686 SM), Hesyre (2650 SM), dan
Peseshet (2500 SM) yang melakukan praktik pelayanan medis di
era Mesir kuno. Kemudian ada nama Herodicus (480 SM) dan
Hippocrates (460 SM) yang melakukan praktik pelayanan medis
di era Yunani kuno. Hippocrates sendiri dikenal sebagai bapak
kedokteran modern. Dia mengkreasi ide mengagumkan
tentang standar moral dokter yang kemudian dikenal sebagai
sumpah Hippocrates (Hippocratic Oath). Sumpah inilah yang
kemudian menjadi pijakan awal hubungan dokter dengan
pasien dalam dimensi hukum (Lihat Afari, 2017; Benson Harer Jr.
and Zenab el-Dawakhly, 1989; Forshaw, 2013; Mikić, 2008;
Schwartz, 2004).
Pada awalnya hubungan dokter dengan pasien bersifat
kepercayaan (vertikal paternalistik). Bersandar pada prinsip
father knows best, pasien menyerahkan sepenuhnya penanganan
penyakit yang ia derita kepada dokter. Pasien juga dapat
menerima semua tindakan yang dilakukan dokter, termasuk
menerima apapun hasil dari upaya dokter. Tetapi pola hubungan
ini kemudian mengalami perubahan dipengaruhi oleh tiga
faktor, yaitu adanya peningkatan kuantitas pelayanan medis,
perubahan pola penyakit, dan perkembangan teknologi di
bidang medis. Hubungan dokter dengan pasien yang semula
vertikal paternalistik kemudian berubah menjadi horisontal
kontraktual (Koeswadji, 2018, pp. 36–46).
Perubahan yang terjadi pada pola hubungan dokter dengan
pasien pada akhirnya mengubah persepsi pasien terhadap
pelayanan medis yang ia terima. Bila awalnya pasien hanya
bersikap pasrah menerima apapun tindakan yang dilakukan
dokter, sikap pasrah ini kemudian berubah menjadi kritis dan
tidak lagi permisif. Bahkan pasien juga tidak ragu untuk
menggugat dokter dan rumah sakit ke pengadilan bila merasa
dirugikan (Senjaya, 2021).







Ulasan
Belum ada ulasan.