KEBIJAKAN DHARMA DAN MASYARAKAT MENYEMAI AJARAN HINDU LEWAT PENYULUHAN KEAGAMAAN

Rp 1.180.001

Kategori: ,

Deskripsi

KEBIJAKAN, DHARMA, DAN MASYARAKAT
Menyemai Ajaran Hindu Lewat Penyuluhan Keagamaan

Author:
I Wayan Suwadnyana, S.Ag., M.Fil.H
Dr. I Made Adi Widnyana, S.Farm., Apt., S.H., M.H.
Ni Ketut Kantriani, S.Ag., M.Ag.

Cetakan Pertama : 15 Januari 2026
Ukuran : 15,5 cm x 23 cm
Jumlah Halaman : x + 160 halaman

Ajaran Hindu telah menjadi fondasi utama dalam
membentuk kehidupan spiritual, sosial, dan budaya masyarakat
Bali sejak berabad-abad lalu. Dharma tidak hanya dipahami
sebagai seperangkat ajaran teologis, tetapi hadir sebagai sistem
nilai yang menuntun cara berpikir, bersikap, dan bertindak
dalam kehidupan sehari-hari. Dalam konteks Bali, agama Hindu
tidak berdiri terpisah dari budaya, melainkan menyatu secara
organik dalam adat istiadat, tradisi, dan struktur sosial
masyarakat. Setiap aspek kehidupan, mulai dari kelahiran, masa
dewasa, hingga kematian, selalu diiringi oleh nilai-nilai keagamaan yang diwariskan secara turun-temurun. Oleh karena itu,
ajaran Hindu bukan sekadar keyakinan personal, melainkan
menjadi identitas kolektif masyarakat Bali. Identitas ini
membentuk karakter masyarakat yang religius, komunal, dan
berorientasi pada harmoni. Kehidupan beragama di Bali dengan
demikian tidak dapat dilepaskan dari kehidupan sosial dan
budaya secara keseluruhan.

Keberadaan ajaran Hindu sebagai fondasi kehidupan
masyarakat Bali tercermin dalam kuatnya praktik ritual dan
upacara keagamaan yang dijalankan secara konsisten. Upacara
yadnya tidak hanya dimaknai sebagai kewajiban spiritual
kepada Tuhan, tetapi juga sebagai sarana menjaga keseimbangan hubungan antara manusia, alam, dan sesama manusia.
Konsep Tri Hita Karana menjadi landasan filosofis yang mengikat
seluruh aktivitas kehidupan masyarakat Bali. Melalui konsep ini,
masyarakat diajarkan untuk menjaga keharmonisan antara
parhyangan, pawongan, dan palemahan secara seimbang. Nilainilai tersebut tertanam kuat dalam struktur sosial desa adat dan
banjar, yang menjadi ruang utama internalisasi ajaran Hindu.
Dengan demikian, ajaran agama Hindu hadir secara nyata
dalam praktik sosial, bukan hanya dalam tataran doktrin. Inilah
yang menjadikan agama Hindu di Bali memiliki karakter yang
hidup dan dinamis.

Cek Ongkir